Terima Kasih Atas Kunjungannya

Rabu, 19 Juni 2013

Cara Mengembalikan Open Default Program Exe dan Shortcut yang Rusak


Cara Mengembalikan Open Default Program Exe dan Shortcut yang Rusak
Assalamualaikum, kali inda tentang cara mengembalikan open default program aplikasi/ file berextensi exe dan shortcut yang rusak.
Pernahkah sobat melakukan Klik kanan file > Open With ?
Lalu apakah sobat pernah pas lagi milih open Choose Default Program nya lupa "Always Use The Selected Program To Open This Kind Of  File" seperti gambar di bawah ini?
Pengalaman seperti ini saya alami, ketika file di laptop teman, saya buka dengan open with dan lupa menghilangkan tanda check seperti pada gambar di atas sehingga semua program exe dan shortcut di laptop teman saya Open Defaultnya sama semua dan susah untuk dibuka, hal ini membuat saya bingung mengotak-atik program untuk mengembalikan keadaan seperti semula, berkali-kali saya restart namun hasilnya nihil  sampai-sampai dipikiran saya jalan terakhir mungkin harus di install. Akhirnya browsing di internet, mencari di google.
Berikut adalah cara terbaru yang saya dapat dari internet:
1.      Download default_exe.reg dan default_lnk.reg disini
2.      Extract file download nya, lalu Klik dua kali file registry tersebut.
3.      Maka akan muncul peringatan, pilih “yes”
4.      Restart komputer sobat
Tetapi setelah melihat cara di atas, memang sepertinya benar, karena kita mengembalikan Open Default file extensi exe ke default pembukanya dan untuk file "Default_LNK_(Shortcut).reg" tersebut fungsinya adalah apabila kita mempunyai masalah pada shortcut yang berubah fungsinya, seperti tidak bisa membuka file aslinya, padahal aplikasi asli dari shortcut tersebut masih terinstall di laptop/komputer.
Namun apabila cara diatas masih belum bisa, anda bisa lakukan cara ini :
Ø  Buat lah User Account baru, dan hapuslah User Account yang lama, tapi kalau tidak mau repot bisa langsung klik Menu Start Windows (Di pojok bawah sebelah kiri anda)
Ø  Cari menu Run, pilih "Regedit" lihat gambar berikut :

Ø  Masuk  ke HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\Curre ntVersion\Explorer\FileExts\. lnk Bersihkan (hapus) semua key yang bisa terhapus tapi selain key [OpenWithProgids]
Ø  Atau dari dalam key-registry di atas, sobat buat key baru dengan nama [OpenWithList]. 
Selamat mencoba sobat, Wassalam..

Selasa, 07 Mei 2013

Pengidap Jantung Usia Produktif

Penyakit jantung menjadi salah satu penyebab kematian utama di Indonesia. Penyakit ini menimpa penduduk berusia produktif. Berdasarkan data Federasi Jantung Dunia, kematian akibat penyakit jantung 17,1 juta orang (19 persen total kematian) per tahun. Jumlah ini empat kali jumlah penduduk Singapura. Di Indonesia, berdasarkan catatan Yayasan Jantung Indonesia, prevalensinya 7-12 persen per tahun. Artinya, minimal ada 16,8 juta penduduk mengidap penyakit jantung dari 240 juta penduduk Indonesia. Dari jumlah itu, yang berusia produktif, 30-50 tahun, mencapai 50 persen. Santoso Karo-Karo dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia mengatakan, penyebab penyakit jantung adalah pola hidup tidak sehat. ”Kebiasaan merokok, mengonsumsi alkohol dan makanan berlemak, kurang berolahraga merupakan faktor risiko gangguan jantung,” kata Santoso, seusai peluncuran alat pengukur detak jantung genggam di Jakarta, Jumat (15/3). Menurut Ketua I Yayasan Jantung Indonesia Mia Hanafiah, hal ini sangat merugikan, tidak hanya medis, tetapi juga sosial-ekonomi. Penyakit pada usia produktif membuat keluarga kehilangan pencari nafkah dan negara kehilangan angkatan kerja. Membiasakan pola hidup sehat adalah cara terbaik mencegah penyakit jantung. ”Yang bisa dilakukan adalah mengurangi dan menghilangkan faktor risiko,” kata Santoso.


Info lebih lengkap www.health.kompas.com

Sabtu, 20 April 2013

Menikah Mengurangi Risiko Serangan Jantung

Adhyel Menikah Mengurangi Risiko Serangan Jantung
Berbahagialah Anda yang sudah menemukan pasangan hidup. Selain tak akan kesepian, pasangan yang sudah menikah juga memiliki risiko lebih rendah terkena serangan jantung. Sebaliknya, orang yang hidup sendiri atau masih menjomblo memiliki risiko kematian lebih besar akibat penyakit jantung. "Hasil penelitian menunjukkan pernikahan mengurangi riisko penyakit koroner akut dan kematian akibat penyakit tersebut, baik pada pria atau wanita," kata ketua peneliti Dr.Aino Lamminatausta dari Turku University Hospital. Untuk penelitiannya Lamminatausta mengumpulkan data lebih dari 15.300 orang yang terkena serangan jantung antara tahun 1993 dan 2002. Dari jumlah pasien tersebut 7.700 orang meninggal 28 hari pasca serangan jantung.  Ketika memperhitungkan status pernikahan dalam kejadian serangan jantung, para peneliti menemukan orang yang tidak menikah memiliki risiko 58-66 persen, sementara pada wanita risikonya sekitar 60-65 persen. Perbedaan risiko pada kematian akibat penyakit jantung bahkan lebih besar lagi pada kelompok orang yang menikah dan yang hidup sendiri. Untuk pria lajang, risiko kematian 28 hari pasca serangan jantung melebihi 60 persen. Mengapa orang yang menikah mendapat keuntungan tersebut belum diketahui dengan jelas. Namun ada beberapa alasan yang diduga berperan. Antara lain, orang yang masih jomblo pada umumnya status kesehatannya lebih rendah. Orang yang sudah menikah juga cenderung memiliki status finansial lebih mapan, memiliki lebih banyak teman dan dukungan sosial lebih besar, yang semuanya meningkatkan status kesehatan. Orang yang memiliki pasangan juga akan lebih cepat ditolong dokter atau diangkut ambulan dibanding para jomblo. "Pernikahan terkait erat dengan kesehatan kardiovaskular yang lebih baik dan risiko kematian lebih rendah akibat serangan jantung," kata Dr.Gregg Fonarow, pakar kardiologi dari Universitas California, Los Angeles.

Info lebih lengkap www.health.kompas.com

Mengapa Usia Muda Bisa Serangan Jantung?

Adhyel Mengapa Usia Muda Bisa Serangan Jantung?


Akhir-akhir ini kasus kematian akibat serangan jantung semakin sering ditemukan. Pada Jumat (22/3/2013) kemarin, penyanyi sekaligus presenter acara olahraga kondang, Ricky Jo, meninggal di usia yang masih relatif  muda akibat serangan jantung. Apa yang menyebabkan serangan jantung ini dapat menyebabkan kematian  dan mengapa kini banyak dialami oleh mereka yang berusia muda?
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Rumah Sakit Jantung Pusat Harapan Kita Jakarta Faisal Baraas menyatakan, penyempitan pada pembuluh darah koroner jantung lah yang memiliki peranan utama mengapa kematian mendadak terjadi. Penyempitan pembuluh darah dapat disebabkan oleh plak yang terbentuk akibat timbunan kolesterol yang terlalu tinggi dalam darah. "Penyempitan pembuluh darah koroner, jika mencapai 80 persen, artinya hanya 20 persen saja yang dapat dilewati darah, menyebabkan darah mengental atau menggumpal. Sehingga tidak ada darah yag bisa lewat ke jantung," papar Faisal saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (23/3/2013). Penyempitan pembuluh darah, lanjutnya, tidak memandang usia seseorang. Oleh sebab itu, meskipun masih berusia muda, penyempitan pembuluh darah bisa terjadi apabila seseorang memiliki faktor risiko sehingga ia menjadi lebih rentan mengalami serangan jantung. Serangan jantung, lanjut Faisal, mungkin saja tidak didahului dengan gejala apapun sebelumnya. "Umumnya memang ada gejala sebelumnya seperti nyeri dada dan sesak, namun bisa juga tidak diawali oleh gejala," ungkapnya.

Faktor Risiko
Faisal menjelaskan, ada dua faktor risiko dari kematian mendadak yang berkaitan dengan penyakit jantung. Pertama adalah faktor yang tidak dapat diubah, dan kedua adalah faktor yang dapat diubah. Faktor yang tidak dapat diubah terdiri dari faktor keturunan atau genetik, faktor usia, dan jenis kelamin. Besarnya masing-masing faktor dalam mempengaruhi risiko penyakit jantung berbeda-beda pada setiap orang. "Untuk faktor genetik, tergantung pada kadar lipoprotein dalam darah. Semakin kuat faktor genetik mempengruhi bila kada protein ini tinggi. Dan semakin tinggi kadar protein ini maka semakin tinggi pula risiko serangan jantung," tutur Faisal. Faktor usia juga tidak dapat dihindarkan. Semakin tua usia seseorang, maka kekenyalan pembuluh darah pun akan berkurang. Sedangkan faktor jenis kelamin, kata Faisal, laki-laki lebih rentan mengalami penyumbatan pembuluh darah dibandingkan perempuan. "Perempuan memiliki hormon estrogen yang mencegah menyempitan pembuluh darah," ungkapnya. Selain itu, ada faktor yang dapat diubah yaitu yang berhubungan dengan gaya hidup. Kebiasaan seperti merokok, kurang olahraga, memiliki kadar kolesterol tinggi, kencing manis, dan stres adalah beberapa faktor risiko yang dapat diubah.

 Olahraga Berat Dapat Memicu
Faisal menambahkan, seringkali penyumbatan pada pembuluh darah tak menunjukkan gejala spesifik, sehingga banyak orang tak sadar jika dirinya sudah memiliki sumbatan.  Bila sudah ada yang tersumbat, kinerja jantung dapat terganggu. Olahraga berat bisa menjadi sangat berbahaya karena dapat memicu serangan jantung. Olahraga berat, terang Faisal, membutuhkan aliran darah yang cepat sehingga membuat kerja jantung lebih berat. Saat terjadi penggumpalan darah, ketika melewati pembuluh darah yang menyempit, maka darah dialirkan semakin lambat. Padahal saat olahraga berat dibutuhkan aliran darah yang cepat. Hal inilah yang dapat memicu kematian mendadak. Untuk mencegah serangan jantung, perlu dihindari faktor-faktor risikonya. Anda memang hanya bisa pasrah dan berdoa untuk faktor yang tidak dapat diubah, namun pengupayaan optimal untuk faktor yang dapat diubah masih dapat dilakukan. Hal yang dapat dilakukan, menurut Faisal, antara lain dengan menjaga pola makan yang sehat yaitu rendah lemak dan rendah garam. Kemudian, olahraga ringan hingga moderat, namun teratur, dan menghindari rokok serta alkohol. "Apabila memiliki penyakit kencing manis atau kolesterol tinggi, maka harus ada pengobatan untuk memperkecil risiko serangan jantung," cetusnya.

Info lebih lengkap www.health.kompas.com

Followers

Powered By Blogger

Statistik Pengunjung