Terima Kasih Atas Kunjungannya
Tampilkan postingan dengan label Bacaan Menarik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bacaan Menarik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Januari 2013

Menemukan Pesan Pergantian Tahun Baru

adhyel tahun baru 2013
Tahun baru akan menjadi usang digerus waktu bila dibiarkan kosong tanpa karya. Hari baru hanyalah pengulangan hari biasa bila tidak diisi dengan makna.
Meskipun sesungguhnya bukan tradisi kita, pergantian tahun telah menjadi lazim dalam kehidupan di negeri ini. Setidaknya, sebagai insan yang berupaya mencari kesempurnaan, kita tidak terlena untuk tenggelam dalam pesta perayaan pergantian tahun baru.
Seharusnya, kita berusaha keras untuk mencari pesan dari setiap peristiwa, termasuk prosesi pergantian tahun. Sesungguhnya, kita diingatkan bahwa semua hal senantiasa berubah dan berganti. Tidak ada yang abadi dalam kehidupan ini. Bahkan, diri kita pun senantiasa berubah dan terus berubah. Ini dibuktikan dari keberadaan sel kita yang senantiasa berganti. Artinya, setiap saat kita adalah pribadi yang selalu baru dan diperbaharui oleh ALLAH SWT. Untuk menjadi baru, tidak perlu menunggu tahun baru. Tahun baru hanyalah babakan waktu yang diciptakan manusia. Akhirnya, meskipun semua pengulangan terus berlangsung seperti hari, minggu, bulan, dan tahun,  semuanya itu akan menjadi percuma bila kita tidak mampu menangkap pesan didalamnya.

Sabtu, 15 Desember 2012

Sinopsis Menara 5 Negara

adhyel negara 5 menara
Sebelum kita melangkah ke jalur sinopsis, terlebih dahulu kita mengetahui para pemain/pemeran Film Negeri 5 Menara, yaitu sebagai berikut :
  • Gazza Zubizzaretha sebagai Alif (pemeran utama)
  • Ernest Samudera sebagai Said
  • Billy Sandi sebagai Baso
  • Rizki Ramdani sebagai Atang
  • Aris Adnanda Putra sebagai Dulmadjid
  • Jiofani Lubis sebagai Raja.
  • Ikang Fauzi sebagai Kiai Rai
Selain itu Film Negeri 5 Menara diperankan pula oleh Doni Alamsyah, Andhika Pratama, David Chalik, Inez Tagor, Mario Irwinsyah hingga pendatang baru seperti Eriska Rein dan Merayni Fauziah yang ikut berperan dan menjadi pemeran dalam film ini. Pemeran dan Pemain utama dalam Film Negeri 5 Menara ini yang bernama Sahibul Menara (enam sahabat karib dalam novel Negeri 5 Menara) dibintangi 6 pemain baru yang merupakan hasil casting dan open casting selama 3 bulan di Jakarta dan kota lain seperti Depok, Padang, Medan, Bandung, Surabaya dan Makassar.
Cerita Film Negeri 5 Menara ini bermula dari seseorang bernama Alif. Alif baru saja tamat dari Pondok Madani. Dia selalu bermimpi, bahwa dirinya bisa menguasai bahasa Arab dan Inggris, kemudian dia ingin belajar teknologi tinggi di Bandung seperti Habibie, lalu merantau sampai ke Amerika.
Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di sawah berlumpur dan tentu mandi berkecipak di air biru Danau Maninjau. Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di pondok.
Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan “mantera” sakti man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak menggigau dalam bahasa Inggris, merinding mendengar ribuan orang melagukan Syair Abu Nawas dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara.
Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian jiwa muda ini membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.
Masih dari Sinopsis Film Negeri 5 Menara, Alif masih bermimpi bahwa dirinya bisa menguasai bahasa Arab dan Inggris, kemudian dia ingin belajar teknologi tinggi di Bandung seperti Habibie, lalu merantau sampai ke Amerika. Maka dari itu selesai dari Pondok, dengan semangat besar dan menggelegar dia pulang ke Maninjau dan tak sabar ingin segera kuliah. Namun sahabat karibnya, Randai, meragukan dia mampu lulus UMPTN. Lalu dia sadar, ada satu hal penting yang dia tidak punya yaitu ijazah SMA. Bagaimana mungkin mengejar semua cita-cita tinggi tadi tanpa ijazah?
Terinspirasi semangat tim dinamit negara Denmark, dia mencoba mendobrak rintangan berat. Baru saja dia bisa tersenyum, badai masalah menggempurnya silih berganti tanpa ampun. Alif letih dan mulai bertanya-tanya: “Sampai kapan aku harus teguh bersabar menghadapi semua cobaan hidup ini?” Hampir saja dia menyerah.
Rupanya “mantra” man jadda wajada saja tidak cukup sakti dalam memenangkan hidup. Alif teringat “mantra” kedua yang diajarkan di Pondok Madani: man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Berbekal kedua mantra itu dia songsong badai hidup satu persatu.

Selasa, 16 Oktober 2012

Hikmah Dibalik Pertandingan Sepak Bola

adhyel hikmah dibalik pertandingan sepak bola
Dalam pertandingan sepak bola, sering kali kita menyaksikan sebuah permainan yang begitu indah, semangat yang begitu membara, serta kerja tim yang begitu kompak. Dalam pertandingan ini, tim yang menang pastilah tim dengan kerjasama yang sangat mengangumkan. Begitu pun sering kali tim yang babak terdahulu kalah, kemudian berhasil menggapai kemenangannya setelah berjuang habis-habisan. Tim ini pastilah tim yang memiliki semangat juang yang luar biasa, evaluasi kinerja yang maksimal, dan tentu saja keinginan kuat untuk menjadi seorang pemenang.
Begitulah kira-kira pekerjaan besar kita untuk merebut bendera kemenangan, dipergilirkan, direbut, jatuh, bangkit, berputar haluan, pergantian pemain, dan untuk selanjutnya setelah semua dilalui maka tinggal menunggu kemenangan. Peluit itu adalah kematian, gol itu adalah amal-amal besar kita, lari dan kerjasama adalah muamalah (kerja) kita, wasit adalah panduan hidup kita berupa Al-Qur’an dan Hadits, sedangkan penonton adalah malaikat pengintai kita. Terlalu banyak pelajaran dalam pertandingan ini, tapi inilah sebuah amtsilah, contoh yang dapat kita ambil hikmahnya.

Jumat, 03 Agustus 2012

Ucapan Alhamdulillah Mestinya Tidak Pernah Terputus

adhyel ucapan alhamdulillah mestinya tidak pernah terputus
BERSYUKUR, bukan hanya sebagai kata. Ucapan Alhamdulillah mestinya tidak pernah terputus dari bibir tubuh dan batin kita. Pasalnya, nikmat Ilahi seakan tak pernah terhenti buat kita sebagai hamba-Nya. Hanya saja, terkadang kita lupa untuk mengatakannya-minimal di hati.
Kata syukur itu memang mestinya dijabarkan dalam sikap yang lebih arif. Sebab, kerap ada yang berkata bahwa bila umur kita bertambah, maka di saat itulah kita makin bijak. Di saat itu pulalah, kita harus memahami kodrat kita sebagai manusia yang harus selalu berada dalam koridor kehendak-Nya. Namun, tidak sedikit dari kita yang lupa mengucapkan rasa syukur itu dari segala nikmat Ilahi. Apalagi, nikmat yang Tuhan berikan sangatlah luar biasa, minimal usia kita bertambah.
Nikmat itu pada dasarnya juga merupakan ujian. Kesenangan yang diberikan Ilahi kepada kita, tidaklah sekonyong-konyong menjadi kebanggaan maupun power untuk menyakiti orang lain. Kesenangan yang beragam itu bukanlah semata hadiah, tapi seharusnya menjadi bahan perenungan dan intropeksi dari segala langkah yang kita telah lewati maupun yaang sedang kita rencanakan  dan hadapi dihari-hari esok.
Bila ada yang mengatakan bahwa nikmat itu, termasuk jabatan adalah semata membuat kita bahagia, maka tentulah cara pandang seperti itu tidak sepenuhnya benar. Lagipula, sering kita mendengar pernyataan dari orang-orang yang masuk kategori bijak bahwa jabatan yang ia emban adalah amanah. Malah, ada yang menilainya sebagai beban.
Lantas adakah jabatan itu beban yang sangat berat untuk kita panggul? Sesungguhnya menurut keyakinan orang yang beriman dan beragama yang baik, jelas memahami bahwa Allah SWT tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Setidaknya, nikmat yang diberikan Ilahi itu bisa jadi justru sebagai beban, tapi terukur oleh kemampuan kita sendiri. Tapi jika kita malah tidak pernah menyadari akan segala kemampuan dari segala beban yang menjadi tanggung jawab kita itu, pada dasarnya di masa-masa itulah kita bisa kehilangan kendali pikir dan sikap sehingga justru menyakiti orang lain.
Seseorang yang terbebani (nikmat sekalipun) itu mendapatkan kebaikan karena pahalanya yang selama ini ia lakukan dan ia pun akan mendapatkan hukuman dan siksa bila ia berbuat jahat dan mengerjakan hal-hal yang merugikan orang lain. Sebagian keyakinan orang mengatakan bahwa ada hukum karma dari setiap perbuatan jahat atau jahil yang kita lakukan. Artinya yang baik akan ada balasan pertolongan, juga akan kemudahan urusan dalam kesulitan bila ada kebaikan yang pernah kita lakukan. Dan begitu pula sebaliknya, bila kita pernah menyakiti dan menzalimi orang lain, maka kita tunggu pula azab kesulitan dan masalah yang akan menimpa kita.
Akan tetapi, apakah sampai di situ saja paham kita tentang nikmat yang merupakan ujian itu? Tentu saja tidak cukup bahwa hidup ini hanya dalam pendekatan causal point of refrence atau sebab akibat, karena nyatanya sebagai manusia tentu saja seseorang itu penuh ketidaksempurnaan, bahkan tempatnya salah dan dosa. Jika demikian, maka keyakinan kita harus diarahkan bahwa Allah SWT, Tuhan Yang Mahaesa juga tempatnya kita memohon pengampunan dan tempat menerima taubat kita. Sehingga, penjabaran nikmat itu menjadi rasa syukur yang kemudian diejawantahkan kebentuk sikap agamis yang tidak lagi melulu menyakiti atau menyinggung orang lain yang mestinya menjadi bagian dari kehidupan kita sendiri untuk saling menghrgai.
Dari konteks itu pula, kita yakin bahwa sedangkan Allah SWT Maha Pengampun dan Pemaaf, apalagi kita sesama manusia mestinya harus ada saling mengampuni dosa kita. Karena pasti ada pula dosa kita dan bisa saja dosa yang ada itu adalah yang kita lakukan justru hal-hal yang di luar kesadaran kita atau karena adanya pengaruh sesaat yang tanpa sadar kita terkondisi berbuat salah. Yang jelas harus diingat bahwa semua orang pernah berdosa dan mungkin yang kita alami saat ini juga karena karma di masa lalu yang sementara berkutat dalam kehidupan kita, masih saling terkait. Tapi jika kesadaran itu hadir, maka jelas karunia Ilahi masih ada pada kita sebagai bahagian intropeksi dan evaluasi perjalanan hidup yang kita alami, karena kesadaran itu memberikan makna bahwa kita masih bernapas, masih ada otak yang berpikir, masih ada hati dan nurani yang Allah SWT karuniai pada kita untuk memperbiki langkah kita yang lebih baik ke depan dengan harapan umur kita masih panjang dan kesempurnaan dari tahun ke tahun makin dapat kita lakukan. Yang akhirnya berwujud sempurna dalam iman, sempurna dalam hidup. Artinya, kerja yang makin baik, sukses dan berprestasi, secra material dapat menghidupkan keluarga dan orang di sekitar kita dengan pendapatan yang halal dan dapat berubah dan mengontribusi kemajuan umat, agama, dan negara, kian terwujud. Namun, semua itu tentulah tak terlepas dari segala nikmat Ilahi yang diberkan kepada kita.
Makanya, sangat disesalkan bila ada orang yang lupa berendam dalam karunia Ilahi yang bibir dan hatinya tidak tahu mengucapkan Alhamdulillah, dan hanya mengucap kata lain yang tak henti menyakiti orang lain. Nauzubillah! Semoga, kita selalu diberi nikmat untuk tetap bersyukur.
Di kutip dari Syahrul Yasin Limpo. 2007. Ambil Tanganku, Kuambil Tanganmu. Yogyakarta; Citra Pustaka.

Rabu, 13 Juni 2012

Kisah Pohon Apel

adhyel kisah pohon apel
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya." Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu." Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?" "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel. "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?" "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah." Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel. "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu. "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu." "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan. Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

Senin, 16 April 2012

Alfabet Keberhasilan

Adhyel Alfabet Keberhasilan
A. Accept = Terima diri anda sebagaimana adanya.
B. Believe = Percayalah terhadap kemampuan anda untuk meraih apa yang anda inginkan dalam hidup.
C. Care = Pedulilah pada kemampuan anda untuk meraih apa yang anda inginkan dalam hidup.
D. Direct = Arahkan pikiran pada hal-hal positif yang meningkatkan kepercayaan diri.
E. Earn = Terimalah penghargaan yang diberikan orang dengan tetap berusaha menjadi yang terbaik.
F. Face = Hadapilah masalah dengan benar dan yakin.
G. Go = Berangkatlah dari kebenaran.
H. Homework = Pekerjaan rumah adalah langkah penting untuk mengumpulkan informasi.
I. Ignore = Abaikan celaan orang yang menghalangi jalan anda mencapai tujuan.
J. Jealously = Rasa iri dapat membuat Anda tidak menghargai kelebihan anda sendiri. Jadi, hindarilah.
K. Keep = Terus berusaha walaupun beberapa kali gagal.
L. Learn = Belajar dari kesalahan dan berusahauntuk tidak mengulanginya.
M. Mind = Perhatikan urusan sendiri dan tidak menyebar gosip tentang orang lain.
N. Never = Jangan pernah QUIT dan PUTUS ASA.
O. Observe = Amatilah segala hal di sekeliling anda. Perhatikan, dengan belajar dari orang lain.
P. Patience = Sabar adalah kekuatan tak ternilai yang membuat anda terus berusaha.
Q. Question = Pertayaan diperlukan untuk mencari jawaban yang benar dan menambah ilmu.
R. Respet = Hargai diri sendiri dan juga orang lain.
S. Self Confidence = Percaya Diri,
Self Esteem = Harga Diri,
Self Respect = Penghormatan Diri, membebaskan kita dari saat-saat tegang.
T. Take = Bertanggung jawab atas setiap tindakan anda.
U. Understand = Pahami bahwa hidup berjalan naik turun.
V. Value = Nilai diri sendiri dan orang lain, berusahalah melakukan yang terbaik.
W. Work = Bekerja dengan giat, jangan lupa berdoa.
X. X’tra = Usaha lebih keras membawa keberhasilan.
Y. You = Anda dapat membuat sesuatu yang berbeda.
Z. Zero = Usaha Nol membawa hasil Nol pula.

" Selamat Membaca (*_*) " 

Followers

Powered By Blogger

Statistik Pengunjung