Terima Kasih Atas Kunjungannya

Jumat, 13 April 2012

Apakah Inti Dari Persahabatan ?

Adhyel Inti Dari Persahabatan
Apakah inti dari persahabatan? Adakah hanya sebatas ketulusan, kejujuran, kebersamaan, kegembiraan, maupun saling memberi? Akankah persahabatan itu hanya di maknai sebagai “bahagia bersama”? yang pasti inti atau hakikat dari persahabatan itu adalah bagaimana kita saling percaya dan juga menyakini kebersamaan!
Percaya atau yakin itu sering kita lihat pada permainan sirkus. Seorang pemain yang melompat dari tali ke tali lalu membuang dirinya di ketinggian, sangat yakin ada temannya yang menjemput lalu meraih tangannya. Sesama pemain sirkus sangat mengagungkan kebersamaan. Mereka patuh pada team work. Nyawa salah satu tim adalah nyawa bersama. Makanya, mereka pasti sangat menyesal sepanjang hidupnya jika ada yang pernah melakukan kesalahan yang berakibat fatal pada rekan setimnya. Akan tetapi, dapatkah kebersamaan itu dapat dilakukan di antara banyak komunitas di era kini? Sering kita apatis. Namun, saya tetap yakin bahwa kebersamaan itu masih tetap banyak dijunjung tinggi. Tetap saja ada teman yang mau mati untuk sahabatnya. Ada saja sahabat yang mau berkorban tanpa pamrih pada teman yang sudah dianggapnya sebagai saudara. Mestinya kita tetap yakin bahwa banyak teman kita yang memiliki nilai “pemain sirkus” yang percaya dan meyakini persahabatan itu sebagai kesatuan hidup. Mereka mementingkan persahabatan ketimbang keinginan individualnya. Mereka tahu bahwa kebahagiaan teman adalah bahagianya juga, begitu pula sebaliknya bila berduka.
Ambillah tanganku, kuambil tanganmu; kuambil tanganmu, ambillah tanganku! Begitulah mestinya persahabatan. Kita tak perlu takut menderita bila kita memiliki sahabat. Kita tak perlu ragu meraih cita-cita bila kita masih memiliki teman. Kita tak perlu bingung menghadapi segala cobaan hidup jika kita masih saling memberi dan saling menerima. Kita adalah satu yang dipersatukan pada “percaya” dan “yakin” bahwa kita saling menyelamatkan! Kalaulah kita makin menyimak inti dari segala inti “sirkus” yang bermain dalam keseimbangan dan perpaduan tim, maka pada dasarnya itulah makna kehidupan yang sebenarnya. Kita tak perlu menunggu teman meminta kita untuk menolongnya ketika kita lihat ia membutuhkan kita. Kita tidak perlu menawarkan bantuan. Kita tidak butuh basa-basi. Sebab, mestinya kita langsung bersikap, bertindak, tacking action, tanpa perlu diminta. Jika kita memang bersahabat, maka janganlah tidak tulus, janganlah tidak jujur, jangalah ada niat buruk yang terselubung, tidak boleh ada trik untuk saling tipu, tidak boleh menyakiti, tidak boleh merugikan teman. Begitu pula dalam padunya sebuah tim kerja, dimana kita harus menempatkan diri sebagai sahabat yang memainkan peran masing-masing. Cobalah pikir bila seorang pemimpin, misalnya, yang tak dipercaya pada bawahannya, akankah tercipta sebuah kinerja yang baik? Akankah ditemukan hasil maksimal? Dan lebih diperparah lagi jika ada saling curiga diantara pemimpin dan bawahan. Jika hal itu terjadi, maka kita tak pernah bisa berharap untuk memaksimalkan pekerjaan dan begitu pulalah persahabatan.
   Lagipula, sejatinya seorang pemimpin adalah juga sekaligus pendidik. Hal yang dilakukan secara regenerasi dan berkesinambungan oleh para pemain sirkus. Sebab, pemain sirkus akan selalu menanamkan kebersamaan, mengajarkan segala inti kemanusiaan untuk saling menghargai peran masing-masing dan saling mengisi ruang-ruang yang kosong untuk keutuhan dan kesuksesan tim. Dan saling belajar di antara sahabat, pemimpin dan bawahan, pemain sirkus, mutlak tercipta yang muaranya membangun kebersamaan. Setidaknya adalah lima poin yang harus dibangun untuk memaksimalkan ruang-ruang kebersamaan di antara sahabat, begitu pula pada struktur organisasi. Pertama, kita harus tahu menempatkan diri pada porsi tugas dan tanggung jawab. Kedua, jangan memikirkan apa yang didapatkan terlebih dahulu untuk kepentingan diri sendiri. Ketiga, tetap menjaga kebersamaan yang tulus tanpa dinodai kepentingan tertentu. Keempat, saling memercayai peran masing-masing. Dan Kelima, meyakini tujuan bersama yang ingin dicapai.
   Memang sangat sulit rasanya untuk mewujudkan persahabatan yang murni bila tetap saja ada keraguan di antara sesama teman. Namun, tidak dapat dipungkiri pula bahwa sejarah telah memberi bukti sepanjang masa bahwa persahabatan selalu saja ada yang menodainya. Dan akibatnya, mereka menuai kehancuran!
Lantas apakah kita ingin hancur hanya karena ada di antara kita yang berkhianat? Tentulah tidak. Namun, tidak bijak pula jika saling curiga bahwa ada yang berkhianat. Sebab, persahabatan itu tetaplah salin memberi; ambil tanganku, kuambil tanganmu; kuambil tanganmu, ambillah tanganku.

Tidak ada komentar:

Followers

Powered By Blogger

Statistik Pengunjung